Jumat, 10 April 2009

BOCAH RENGAS MENCILAK



Rencana dan Wacana
Pembentukan Provinsi Cirebon (Jangan Hianati Sejarah Sunda)

Isyu pembentukan Provinsi Cirebon yang memisahkan diri dari Provinsi Jawa Barat semakin santer. Banyak elemen masyarakat di Kabupaten Indramayu,Kuningan yang menyatakan pro dan kontra. Sebenarnya di Kabupaten Indramayu sendiri kontra yang tidak sepaham dengan Isyu itu sendiri,Sementara masyarakat Cirebon telah membuat Panitia Persiapan Provinsi Cirebon (P3C). Padahal gagasan itu terlontar secara spontan dari Bupati Indramayu H. Irianto MS. Syaifuddin atau Yance.

Pada saat itu, Yance, biasa ia disebut gagal mengikuti konvensi di DPD Partai Golkar dalam pencalonan gubernur dan wakil gubernur tahun lalu. Atas kekecewaan tidak ikut konvensi ia melontarkan gagasan bahwa pantura, khususnya Indramayu akan memisahkan diri dari Provinsi Jawa Barat. Gagasan itu, terus menggelinding sampai sekarang seperti bola salju.

Justru ketika isyu itu ditepis sendiri oleh Yance, dengan meralat pernyataannya. Namun masyarakat Cirebon seolah-olah tidak mau ketinggalan untuk mengambil peran sebagai perintis pembentukan Provinsi Cirebon. P3C mengundang ketua dan wakil ketua DPRD Kabupaten Kuningan untuk melakukan rapat persiapan di salah satu hotel di Kota Cirebon (6/3).

Sedangkan Ketua DPRD Kabupaten Kuningan, H. Yudi Budyana, jauh-jauh hari telah menyatakan sikap. Bahwa pembentukan Provinsi Cirebon terlalu dini dan dianggap mengada-ngada. Soalnya, gagasan Yance itu bersifat emosional sementara yang tidak perlu ditanggapi serius. “Jika Kabupaten/Kota Cirebon tetap menghendaki, ya silahkan saja. Sedangkan Kabupaten Kuningan akan tetap menginduk ke Provinsi Jawa Barat,” tegasnya.wah hebat bupati kuningan ini.sangat berani dan tegas serta bijaksana dalam mengambil keputusan.Kalo menurutku ini merupakan tanggung jawab terhadap rakyatnya,bukan demi pribadinya.

“sikap itu bukan melihat dari perbedaan kultur antara masyarakat Kabupaten Kuningan dengan Cirebon. Tapi hanya berpikiran realistis, sebab pembentukan provinsi Cirebon tidak semudah membalikan telapak tangan. Ada proses hukum yang harus ditempuh. Sehingga kita berpikir, lebih baik energi yang ada disalurkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.( Wah bagus bos,Itu namanya Bupati)

Dodo Suwondo, salah seorang seniman di Kabupaten Kuningan menyebutkan. Secara prinsif ada perbedaan kultur dan sejarah antara Cirebon dengan Kuningan. Meski dalam tataran sejarah bahwa Cirebon merupakan penerus atau generasi terakhir dari Keturunan Sri Baduga Maharaja Prabu Niskala Wastu Kancana atau lebih dikenal di masyarakat sebagai Prabu Siliwangi.

“Pangeran Cakrabuana, atawa nama lain Walangsungsang atau sejenisnya merupakan anak atau keturunan langsung Prabu Siliwangi. Begitu pun Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati merupakan cucu darinya. Sebab beliau anak kandung dari Nyi Mas Lara Santang, atau adiknya Walangsungsang. Pada masa itu, mereka berdiam di Caruban atau sekarang Cirebon,” terangnya.

Begitu pun dengan Kabupaten Kuningan, bahwa Ratu Selawati, Arya Kamuning (Bratawijaya), Ki Gedeng Luragung (Jayaraksa) merupakan cucu dari Sri Baduga Maharaja Prabu Niskala Wastu Kancana dari Ningrat Kancana. Artinya antara Walangsungsang dengan Pangeran Arya Kamuning masih satu keturunan. Jadi dalam sejarah ada persamaan.

Namun demikian, persamaan sejarah itu tidak bisa dipungkiri kalau Cirebon juga merupakan bagian penting dari sejarah di Sunda. Artinya, Cirebon tidak bisa dipisahkan dari Jawa Barat kalau sekarang. “Siapa pun yang mengingkari sejarah, tentunya harus mendukung pembentukan Provinsi Cirebon. Tapi jika ada kesetiaan terhadap sejarah tentunya tidak perlu membentuknya,” tegasnya.Memang harusnya begitu.kalo mau bertanding setidaknya harus siap menerima kemenangan dan kekalahan itu yang penting.

Dikutip Oleh : Pecundang yang tereleminasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar